Translate

Monday, 29 September 2014

Milan Fashion Week S/S 2015 : Cool Style in Fendi S/S 2015



Koleksi musim semi dan panas 2015 FENDI dalam Milan Fashion Week baru-baru ini, yang merupakan kreasi dari Karl Lagerfeld dan Silvia Venturini Fendi, sangat menghibur untuk dilihat. Tampil semarak dengan motif bunga anggrek ataupun berbagai bentuk gaun-gaun transparent. Adapun tas seperti biasanya menampilkan berbagai karya andalan FENDI seperti Baguette ataupun Peekaboo, selain juga berbagai koleksi lainnya dalam berbagai desain yang sangat unik dan cute

Rasanya koleksi Fendi ini mewakili aroma musim semi dan panas dimana orang-orang bersukacita menyambut sinar matahari. 

Berikut ini berbagai gambar yang terekam dari Fashion Show Spring/Summer 2015 FENDI :




























image is the courtesy of Fendi
rosie soemardi



Saturday, 27 September 2014

Agenda Worldwide : October - November 2014


Please check this agenda regularly. It may have some more additions.



                         Bali, Indonesia 
                         image is the courtesy of Wonderful Indonesia



Festivals :


Batik Week : 


Marathon : 


Fashion Week :


Exhibition :
  • World Cultural Heritage Textile Exhibition. Date : 1 - 31 October 2014. Place : Museum Tekstil, Jl. KS Tubun, Jakarta Barat, Indonesia. It will show a wide range of textile and batik collection which are the Indonesian's ancestors cultural heritage from Sabang to Merauke.  source : http://www.jakarta-tourism.go.id/node/1092
  • A Journey Through Time : Southeast Asia Grandest Watch and Jewelry Showcase. Date : 21 - 28 November 2014. Place : Starhill Gallery, Jalan Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia.  source : http://www.ajourneythroughtime.com.my/


Christmas Season & Fireworks :


Rosie Soemardi


Singapore Sling Sebagai Pelengkap Kunjungan Anda di Singapura



Long Bar in Raffles Hotel, Singapore
above image is the courtesy of panoramio.com




Singapore Sling
above image is from wikipedia


Jika berada di Singapura, maka kunjungan anda belumlah lengkap jika belum pernah sekalipun mencoba Singapore Sling yang merupakan minuman kebanggaan warga Singapura. Minuman yang pertama kali diciptakan sebelum tahun 1915 di Long Bar, sebuah bar yang terletak di Hotel Raffles oleh Ngiang Tong Boon, merupakan mixed drink yang mengandung alcohol berupa gin. Campurannya terdiri atas gin, cherry liqueur, cointreau, benedictine, pineapple juice, lime juice dan angostura bitters. Minuman ini disajikan di dalam gelas tinggi dan dihargai Sing $ 25 di Long Bar (jika harga belum naik). 

Walaupun harganya tidak murah untuk segelas minuman seperti ini, namun Long Bar selalu dipenuhi pelanggan yang ingin memesan Singapore Sling. Dan akhirnya minuman itu datang. Tampil dalam kesederhanaan, dengan garnish berupa maraschino cherry dan pineapple. Anda juga akan diberi kacang kulit yang diletakkan di dalam sekantung karung goni mungil. Pantas saja banyak sekali kulit-kulit kacang bertebaran di lantai Long Bar. Entahlah mengapa minuman ini menjadi "trademark" negara Singapura. Bahkan untuk mendapatkan minuman tadi, anda akan menunggu cukup lama di Long Bar yang memiliki nilai historis di Singapura.  


Suasana kolonial yang sangat kental
melekat pada bangunan Hotel Raffles


Sebuah sudut di Hotel Raffles, Singapura





image is the courtesy of Rosie Soemardi, wikipedia, panoramio.com
Rosie Soemardi

Thursday, 25 September 2014

Patriotism in "Damn ! I Love Indonesia"


The brand "Damn ! I Love Indonesia" clearly states patriotism and a strong feeling to the country of Indonesia. Never before has a brand specially raised a patriotic theme like this for their products. We really appreciate the love expression shown by this brand to the country of Indonesia. 


Basic Female Misty Grey Flock Red




Tee Male Merdeka Punch


Raglan Circle Rustic Red/White



Tee Male Bima Suci Flock Red


Tee Female Kartini Pop


     

Basic Female World Cup France



Tee Male Sukarno Movie



Raglan Male Nude Green Army



Basic Female Glow in the Dark



Tee Male Classic 45 Pink



Tee Male DAMN ! I Love Indo
Hand Doodle



Tee Male Real Indo Hero





Raglan Male Misty Grey/Black Flock Red


Hooedie Garuda Lamp




image is the courtesy of Damn ! I Love Indonesia
rosie soemardi

Wednesday, 24 September 2014

Raffles' The History of Java


Raffles tahun 1817
above image is from wikipedia



Buku "The History of Java" yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris yang berkuasa di Indonesia dalam tahun 1811 hingga 1816, memang sangat berguna bukan saja bagi kepentingan pemerintah Inggris pada saat itu namun juga untuk dunia, bahkan di abad ke 21 inipun buku tersebut tetap merupakan sebuah karya yang sangat luar biasa yang pernah dihasilkan oleh salah seorang pemimpin yang terkenal di dunia. Buku tersebut dicetak dalam dua volume dan diterbitkan dalam tahun 1817. Catatan sejarah yang akan berumur dua abad dalam tahun tahun 2017 itu, memberikan data yang sangat terperinci dan mendalam mulai dari berbagai suku bangsa, bahasa, bentuk wajah, cara berpakaian berbagai level dalam masyarakat, kebiasaan, adat istiadat, kesenian, agama, sejarah, hasil bumi, kekayaan alam yang terkandung baik di darat maupun di laut, berbagai pulau yang ada di Indonesia, berbagai persenjataan penduduk, data penduduk (populasi) di berbagai daerah, hewan-hewan, tumbuhan yang ada di berbagai wilayah di Indonesia, sastra, astronomi, kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia dan masih banyak lagi. Juga disebutkan pula di suatu daerah banyak sekali terdapat emas, sehingga tak sulit menemukannya karena saking banyaknya (adalah sesuatu yang sangat menyakitkan bagi bangsa Indonesia bahwa kekayaan yang melimpah ruah itu diambil oleh bangsa penjajah waktu itu). Sehingga buku tersebut merupakan sebuah dokumentasi yang sangat detail mengenai kondisi di Indonesia dan secara khususnya di pulau Jawa. 

Dalam waktu hanya empat tahun, Raffles mempelajari kondisi bangsa Indonesia pada saat itu setelah mengalami penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia digambarkan olehnya sebagai bangsa yang kurang menyukai kegiatan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Tentu pandangan ini sesungguhnya tidak benar. Pendapat ini seakan-akan meremehkan kemampuan berpikir bangsa Indonesia. Apalagi pada saat itu bangsa Indonesia dalam kondisi sebagai bangsa terjajah. Bangsa yang terjajah tentu saja dicabut hak-haknya untuk menguasai ilmu pengetahuan karena ditakutkan mereka akan memberontak melawan penjajah. Juga pada waktu itu Belanda menanamkan pemikiran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bodoh yang tak suka mempelajari pengetahuan, bangsa yang malas. Lalu, bagaimana ketika zaman diputar balik kembali ke zaman Majapahit dimana bangsa Indonesia (Jawa) dapat mengarungi samudra luas dan menyatukan berbagai pulau-pulau yang terletak sangat berjauhan satu sama lain menjadi satu wilayah yang sangat luas (bahkan lebih luas daripada wilayah Indonesia saat ini) di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit ? Jika tak memiliki kemampuan pengetahuan yang tinggi tentu tak mungkin dapat seperti itu, termasuk juga kemampuan teknologi dalam membangun kanal-kanal airnya yang masih dapat disaksikan peninggalannya hingga kini. Belum lagi kemampuan leluhur bangsa Indonesia dalam membuat candi-candi yang sangat indah dengan ukuran yang sangat akurat. Lihatlah candi Borobudur. Bangsa yang bodoh atau malas tidak akan mampu menciptakan bangunan seperti candi Borobudur. Bangsa Indonesia bukan bangsa budak. Kalaupun ada kesalahan leluhur bangsa Indonesia pada zaman dahulu, yakni mereka tidak menciptakan alat-alat pertahanan seperti mesiu, meriam, peluru dan semacamnya sehingga akibatnya dapat ditaklukkan oleh penjajah, selain juga dilempari politik adu domba. Tentu keadaan bangsa Indonesia yang ditulis oleh Raffles di dalam bukunya itu merupakan pandangannya dalam abad itu dimana saat itu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terjajah, yang dicabut segala hak-haknya untuk belajar, terutama setelah mengalami penindasan kolonialisme Belanda yang sangat luar biasa kejam sebelum bangsa Inggris datang. Mereka telah dibentuk menjadi bangsa yang bodoh, tidak berkemampuan dan sebagainya oleh Belanda waktu itu. Perlu diketahui juga bahwa oleh Belanda bangsa Indonesia ditempatkan sebagai bangsa yang berada pada lapisan masyarakat terbawah setelah bangsa Eropa dan bangsa-bangsa asing lainnya yang tinggal di Indonesia. Dengan demikian bangsa Indonesia lama kelamaan memiliki mental rendah diri, merasa tak berharga dan selanjutnya secara alami mengalami kehancuran mental yang menahun. Maka penjajahan dapat berlangsung selama ratusan tahun dengan sangat sukses.

Kembali lagi mengenai Raffles, kemampuan Raffles dalam menganalisa dan menulis menunjukkan tingkat intelektualnya yang tinggi dan juga tampak sebagai seorang yang sangat menghormati sejarah dan kebudayaan Indonesia. Sayang sekali Raffles hanya empat tahun di Indonesia dan selanjutnya Indonesia jatuh kembali ke tangan penjajahan Belanda yang sangat luar biasa kejam. Berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang berada dalam penjajahan Inggris.

Buku ini sangat tebal. Volume pertama terdiri atas 479 halaman (belum termasuk lembar introduction), sedangkan yang ke dua terdiri atas 288 halaman (belum termasuk lembar appendix yang juga hampir setebal halaman tadi). Buku-buku tersebut berukuran 23 cm x 28,5 cm dan dicetak dalam bentuk hard cover. Dilengkapi gambar-gambar yang dipilihkan Raffles untuk ditampilkan dalam bukunya tersebut, juga dilengkapi peta, data-data yang terperinci dan kamus bahasa. Buku yang sangat menarik dan siapapun pasti akan sangat senang memilikinya sebagai koleksi. Juga sangat cocok dimiliki oleh siapapun yang senang menganalisa sesuatu ataupun mempelajari sejarah.

Buku "The History of Java" ini kiranya "memanggil" para intelektual Indonesia yang tersebar di segala penjuru tanah air untuk juga menulis dan menghasilkan buku-buku bermutu tinggi seperti ini sebagai karya-karya prestisius anak bangsa. Catatan sejarah ini memang sangat bermutu tinggi, tak lekang akan waktu dan patut dicontoh. 


Berikut ini beberapa cuplikan dari buku tersebut :










Rosie Soemardi
image is the courtesy of Rosie Soemardi


Sunday, 21 September 2014

Thursday, 11 September 2014

From New York Fashion Week S/S 2015 : SUNO




Michelle Obama mengenakan SUNO


SUNO. Label ini mungkin belum sangat dikenal di dunia, namun tidak demikian halnya di Amerika Serikat. Sejak 2008 Max Osterweis mengenalkan SUNO sebagai label untuk busana wanita dengan kota New York sebagai pusatnya. Kini bersama desainer Erin Beatty mereka berdua mengeluarkan berbagai koleksi high-end yang dinamis untuk SUNO. SUNO mengangkat tekstil Kenya dengan sentuhan modern. Michelle Obama tercatat sebagai salah satu wanita yang menyukai desain dan corak SUNO. Sebagai catatan, SUNO merupakan finalis Vogue/CFDA Fashion Fund dalam tahun 2011 dan 2012. Tahun 2013 brand ini meraih CFDA Swarovski Award untuk kategori busana wanita. 

Berbagai desain SUNO dalam New York Fashion Week Spring/Summer 2015 :












Sedangkan beberapa desain untuk koleksi Fall 2014 ini : 











rosie soemardi
image is from or the courtesy of SUNO, W magazine.com, style.com